iRig Pre HD: Interface untuk Travel Podcasters, Voice Over Artists

Setelah sebelumnya mengulas tentang RODE NT-USB Mini, kali ini Pajokka akan mengulas tentang iRig Pre HD yang memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan RODE NT-USB Mini. Bedanya, iRig Pre HD berbentuk audio interface saja - tanpa mic. Artinya, teman-teman harus membeli mikrofon secara terpisah untuk merasakan fungsinya.

Di Indonesia, device besutan IK Multimedia ini dibanderol dengan harga Rp. 1.7xx.xxx. Setelah menebus iRig Pre HD, teman-teman berhak menikmati kualitas rekaman yang super jernih. Demikian halnya karena IK Multimedia membenamkan low noise preamp yang kedalam iRig Pre HD.

iRig Pre HD dibekali dengan sebuah input berjenis XLR 3 pin untuk mengoneksikan mikrofon. Selain itu, terdapat pula sebuah jack berukuran 3.5mm untuk headphone monitoring. Tersedia pula putaran mekanikal untuk mengatur gain level dari input dan outputnya.

Pada sisi atas, terdapat sebuah colokan micro-USB yang berfungsi untuk mengoneksikan iRig Pre HD ke gawai atau ke laptop. iRIg Pre HD dibekali dengan dua tipe kabel konektor - micro-USB ke Apple lightning untuk sambungan ke perangkat iOS dan micro-USB ke USB tipe B untuk ke laptop. Sayang sekali, device ini hanya mendukung sambungan ke iOS device saja - yakni iPhone dan iPad. Sebagai catatan, jika anda mempunyai iPad Pro 2020 yang telah menggunakan koneksi USB type-C, anda akan membutuhkan konektor tambahan untuk menyambungkannya dengan iRig.

iRig Pre HD memiliki rumah baterai namun sangat disayangkan karena baterai yang disematkan kedalamnya hanya berfungsi untuk menyalakan phantom power saja. Ini berarti bahwa ketika iRig Pre HD disambungkan ke laptop atau perangkat iOS, iRig Pre HD harus menerima daya dari device yang anda sambungkan. Dengan begitu, pastikan anda menggunakan iRig Pre HD hanya ketika daya laptop atau perangkat iOS anda terisi penuh. Selain itu, banyak pengguna iRig Pre HD yang mengeluhkan kecilnya gain dari iRig Pre HD ini. Berdasarkan data yang dirilis oleh IK Multimedia, gain yang mampu diberikan iRig Pre HD hanya sekitar 45dB saja. Ini berarti bahwa seluruh rekaman mentah yang diambil menggunakan iRig Pre HD masih harus masuk kedalam tahap editing - paling tidak boost gain - agar hasilnya lebih maksimal.

Pajokka adalah salah satu orang yang penasaran dengan kualitas dari interface ini. Sayang sekali, per September 2020, barang ini sudah sangat langka - bahkan nyaris tidak ada lagi dipasaran. Demikian halnya dengan iRig Pro I/O yang per September 2020 juga sudah langka dipasaran. Jika teman-teman menginginkan device ini, silahkan cari alternatif lain.

TC Helicon Go Solo adalah salah satu dari alternatif iRig Pre HD. Sayang sekali, hingga September 2020, TC Helicon belum masuk Indonesia. Ketersediaannya di pasar internasional juga belum ada, padahal Go Solo sudah beberapa bulan dirilis.

Zoom Podtrak P8 Akhirnya Dirilis Zoom Corporation

Dari serinya, bisa ditebak bahwa Zoom Podtrak P8 dikhususkan untuk para podcaster dengan bekal 8 buah mic input. Setelah baru-baru ini Zoom Corporation merilis Zoom Podtrack P4, kini giliran Podtrak P8 yang merupakan kakak dari seri P4 diperkenalkan ke publik.

Zoom Podtrak P8

Fitur Unggulan Zoom Podtrak P8

Dari gambar diatas, terlihat bahwa Zoom Podtrak P8 sekilas nyaris mirip dengan RODECaster dari segi fisik. Zook Podtrak P8 juga dibekali dengan faders sebagai gain input-nya dengan dedicated mute button untuk setiap channel. Selain itu, keberadaan pads untuk sound effect juga langsung mengingatkan kita pada RODECaster.

Meskipun Podtrak tipe ini menyematkan angka 8 pada serinya, namun Podtrak P8 tidaklah sepenuhnya memiliki 8 buah input. Total hanya terdapat 6 buah input berjenis 3-pin XLR. Seperti kebiasaan Zoom Corporation pada produk-produknya, fitur 8 input hanya memungkinkan jika kita membeli aksesoris tambahan untuk membuatnya benar-benar menjadi 8 input.

Seperti layaknya Podtrak P4, seri Podtrak P8 juga dibekali dengan dedicated volume output untuk masing-masing inputnya. Dengan demikian, penggunanya dapat mengatur level output sesuai dengan toleransi pendengaran masing-masing.

Salah satu hal yang membedakan Podtrak P8 dengan Podtrak P4 adalah keberadaan layar sentuh yang dapat digunakan untuk kustomisasi. Hal ini tentunya dapat sangat memudahkan penggunanya dalam hal kustomisasi karakter suara yang diinginkan.

Berikut ini beberapa fitur Podtrak P8 berdasarkan informasiyang dirilis Zoom Corporation dalam laman resminya.

Low Cut

Fitur ini berfungsi untuk mengurangi kebisingan frekuensi rendah seperti suara AC, suara jalan, getaran, dan suara-suara lainnya.

Compressor/DeEsser

Fungsi utama dari compressor adalah untuk menjaga stabilitas dinamika input - dalam hal ini input analog berupa suara yang direkam. Dengan adanya fitur ini, suara anda dapat terdengar lebih profesional dan berkarakter.

Selain beberapa fitur diatas, masih terdapat beberapa fitur lainnya seperti tersedianya saluran khusus yang berfungsi untuk merekam panggilan telepon. Selain itu, Podtrak P8 juga dibekali dengan fitur Mix-Minus yang mampu mencegah gema dan umpan balik (feedback/storing) kepada orang yang ditelepon. Dua fitur ini jelas sangat memudahkan para podcaster dalam perekaman wawancara jarak jauh.

Tombol On Air

Ketika tombol On Air dinonaktifkan, seluruh aktivitas masih dapat terdengar melalui headphone output namun tidak akan direkam. Fitur ini sangat bermanfaat ketika sesi podcast anda sedang break.

Audio Interface

Selain sebagai recorder atau perekam, Zoom Podtrak P8 juga dapat difungsikan sebagai audio interface. Untuk mengkoneksikannya, cukup sambungkan Podtrak P8 ke PC/laptop/gawai anda melalui koneksi kabel tipe C.

Battery-powered

Satu fitur unggulan dari Podtrak P8 yang tidak dimiliki oleh kompetitornya adalah dimungkinkannya untuk menggunakan alat ini dengan daya dari 4 buah batere tipe AAA. Hal ini tentunya sangat menunjang portabilitas yang memungkinkan kita untuk melakukan perekaman diluar studio.

(Baca juga: Zoom Podtrak P4 untuk Podcaster)

Harga Zoom Podtrak P8 (September 2020)

Untuk harganya sendiri, Zoom Podtrak P8 dibanderol seharga 500 Dollar Amerika (per September 2020) dan telah tersedia secara preorder di situs-situs marketplace luar negeri.

Kebutuhan Dasar Pembuatan Website

Dalam membuat serta mengembangkan sebuah website - apapun jenisnya - anda setidak-tidaknya membutuhkan domain dan hosting. Mengenai bagaimana website impian anda dibangun, kita bahas pada artikel yang berbeda. Kali ini, kita akan fokus kepada kebutuhan dasar pembuatan website atau sarana yang kita butuhkan - yakni domain dan hosting.

Domain

Secara sederhana, domain merupakan alamat daring dari toko online atau website anda. Jika diibaratkan toko fisik, maka domain berarti alamat lengkap dari toko fisik anda - misalnya Jalan Yos Sudarso Nomor 1. Dalam dunia website, kita bebas memilih alamat yang kita sukai - misalnya tokolaku.com atau tokolaku.net, atau tokolaku.id.

Dalam memilih nama domain, upayakan agar nama yang anda pilih adalah nama yang mencerminkan isi dari website anda. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan website anda tampil didalam mesin pencari Google. Bukankah tujuan anda membuat website adalah untuk memberitakan atau mempublikasikan sesuatu kepada para peselancar internet?! Jika jawabannya “ya”, maka saran tentang pemilihan nama yang disarankan tadi wajib anda pertimbangkan.

Jikapun anda menginginkan nama yang kurang atau sama sekali tidak mencerminkan isi dari website anda (seperti layaknya pajokka.my.id), maka hal tersebut juga tidak terlalu menjadi masalah karena anda masih dimungkinkan untuk menaikkan tingkat visibilitas website anda pada mesin pencari Google melalui meta deskripsi dan kata kunci yang bisa anda atur setelah instalasi website anda selesai.

Hosting

Secara teknis, hosting dapat diibaratkan seperti sebuah flash-disk atau hard-disk yang akan menyimpan seluruh data terkait website anda. Jadi, bagaimana cara menentukan kapasitas hosting yang anda butuhkan adalah dengan cara memperkirakan seberapa banyak file yang akan anda unggah kedalam website anda.

Menghitung Kebutuhan Hosting

Misalnya, jika anda hanya ingin membuat website sederhana yang nantinya hanya akan didominasi oleh curahan pemikiran anda, maka tentu datanya tidak akan terlalu banyak karena website anda hanya akan berisi tulisan dan sedikit foto. Namun jika anda berencana untuk membuat toko online yang dipenuhi gambar beresolusi tinggi, maka jelas anda akan membutuhkan kapasitas hosting yang jauh lebih besar.

Pertanyaannya, “seberapa besarkah ‘besar’ itu?”

Anda dapat menjawab pertanyaan diatas dengan memperkirakan rata-rata ukuran file yang akan anda gunakan. Misalnya, jika anda ingin membuat toko online yang rata-rata produknya memiliki 3 buah foto dengan ukuran 3MB dan anda berencana memasarkan 100 buah produk berbeda, maka dapat diperkirakan bahwa untuk foto saja, anda membutuhkan sekurang-kurangnya kapasitas penyimpanan sebesar 300MB. Angka tersebut belum termasuk keterangan berupa tulisan (judul produk dan deskripsi produk). Angka tersebut juga belum termasuk ‘mesin website’ anda (hal ini kita bahas pada sub-judul berikutnya).

Sampai disini, kita telah mendapatkan gambaran kasar dari kebutuhan hosting. Jika perkiraan angka pastinya telah didapatkan, maka untuk gambaran kebutuhan tersebut, tentunya kita harus membeli paket hosting yang lebih dari 300 MB. Namun perlu diingat bahwa penyedia hosting menawarkan paket hosting yang beragam. Biasanya, paket hosting yang ditawarkan adalah 500MB, 1GB, 2GB, 5GB, dan seterusnya.

“Mesin Website”

Yang dimaksud dengan istilah “mesin website” disini adalah platform yang akan anda gunakan untuk membuat website. Saat ini, terdapat banyak sekali platform atau website generator yang bisa kita pilih. Namun beberapa yang populer adalah Wordpress, Joomla, Drupal, dan Blogger.

Diantara website generator yang disebutkan diatas, Wordpress adalah web engine yang paling populer. Untuk instalasinya, anda dapat melakukannya sendiri (meskipun tanpa bantuan ahli website) hanya dalam hitungan menit. Mayoritas, kalau tidak semuanya, penyedia hosting memiliki fitur Softaculous yang memungkinkan anda untuk menginstal web generator pilihan anda secara otomatis. Fitur tersebut tentunya baru akan terbuka setelah anda membeli hosting.

Wordpress sendiri memiliki ukuran sekitar 45MB. Berdasarkan perkiraan awal kebutuhan tadi, sekarang kita dapatkan total angka 345MB (300MB + 45MB) atau bisa dibulatkan menjadi 350MB. Untuk angka ini, anda akan disarankan untuk mengambil paket hosting sebesar 1GB agar anda memiliki space yang cukup lega.

Setelah membahas hal teknis terkait pembuatan website secara mandiri, kini anda dapat memikirkan rencana anda secara lebih matang lalu mulai mengeksekusi paket hosting yang sesuai dengan kebutuhan anda. 

Selanjutnya, dimana anda harus memesan domain dan hosting?

Pajokka menyarankan anda untuk membaca paket yang ditawarkan oleh penyedia domain dan hosting andalan Pajokka. Disana anda dapat berkonsultasi secara gratis dengan tim yang selalu ada 24 jam. Sampaikan saja estimasi kebutuhan anda. Selanjutnya anda akan ditawarkan paket yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Dari sekian banyak penyedia domain dan hosting yang pernah Pajokka coba, DewaWeb masih menjadi yang terbaik. Terdapat beberapa alasan mengapa Pajokka memilih DewaWeb. Satu yang paling utama adalah masalah kualitasnya. Disaat yang lain masih menggunakan pola hared hosting, DewaWeb telah menawarkan paket cloud hosting yang jauh lebih modern. Selain itu, masih ada beberapa alasan lagi tapi akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

Selamat mencoba!!!

Harga Sepeda Lipat Naik Drastis - Sebuah Spekulasi

Bersepeda kembali menjadi trend dikalangan masyarakat Indonesia setelah pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial akibat Covid-19. Dampaknya, harga sepeda lipat melonjak drastis - nyaris menembus level ‘tidak masuk akal’. Berikut ini spekulasi Pajokka terkait fenomena naiknya harga sepeda lipat di Indonesia.

Keluhan Masyarakat

Isu harga sepeda yang melonjak drastis ini tidak hanya dikeluhkan oleh masyarakat saja. Pejabat sekaliber Ganjar Pranowo turut mengungkapkan kegelisahannya terhadap meroketnya harga sepeda. Oleh banyak pihak, meroketnya harga sepeda (khususnya sepeda lipat) disebabkan karena jumlah permintaan yang masif - tidak sebanding dengan kemampuan produksi.

Untuk sepeda Pacific 2980-RX misalnya. Sebelum pandemi Covid-19, harganya masih berada pada kisaran Rp. 1.500.000 hingga Rp. 2.000.000 saja. Saat ini, sepeda tersebut dibanderol sekitar Rp. 3.000.000 - nyaris naik 100%.

Bukan Karena Covid

Dilansir dari Global Web Index, intensitas bersepeda dan berjalan kaki di United States dan England naik sejak Covid-19. Selanjutnya, data dari United Nations menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 merupakan momentum untuk menyehatkan dunia dengan menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan. 

Di Indonesia sendiri, banyak dari pesepeda lipat yang keluar masih dengan menggunakan mobil. Setelah tiba di tujuan, mereka menurunkan sepeda mereka, bersepeda sejenak, mengambil beberapa video dan gambar untuk keperluan dokumentasi, lalu kembali menaikkan sepeda mereka ke mobil. Hal ini menegaskan bahwa untuk bersepeda, beberapa dari masyarakat kita masih harus membakar bahan bakar melalui mesin kendaraan bermotor.

Bukti selanjutnya, sangat jarang dijumpai pesepeda yang berjalan sendirian. Kebanyakan dari mereka keluar bersama komunitas sepeda yang berjumlah diatas 5 orang. Jika ini murni karena takut akan penularan Covid, maka tentu mereka akan lebih memilih untuk berjalan sendirian.

Musiman?

Bersepeda bukan baru kali ini menjadi trend dikalangan masyarakat. Sekira satu dasawarsa silam (mungkin lebih), bersepeda pernah lebih booming dari booming-nya bersepda ditahun 2020 ini. Saat itu, jenis sepeda yang populer adalah fixie atau fixed gear bike. Populernya sepeda saat itu menyebabkan harga sepeda sedikit mengalami kenaikan - meskipun tidak semasif sekarang ini.

Pajokka percaya bahwa harga sepeda, khususnya sepeda lipat, masih akan bertahan seperti yang dapat kita lihat pada pertengahan tahun 2020 ini. Diprediksi harga segera turun. Mengenai kapannya, tidak ada yang tahu.

Jelas, trend bersepeda yang kita lihat sekarang ini hanya merupakan trend musiman mengingat tahun 2020 ini bukan pertama kalinya Indonesia dilanda demam bersepeda.

Gara-gara Brompton?

Sejak nama Brompton yang bernilai puluhan juta rupiah itu mulai terdengar, harga sepeda lipat lokal turut melonjak. Jika permintaan pasar yang tidak sebanding dengan kemampuan produksi dijadikan sebagai dalih, maka waktu 3 - 5 bulan tentu telah cukup untuk memenuhi permintaan pasar - terlebih setelah pemerintah melonggarkan kebijakan tentang pembatasan sosial.

Entah karena ada pihak yang ingin memperlama durasi euforia demam bersepeda ini untuk memanen rupiah ataukah ini memang murni karena permintaan pasar yang masif, pemerintah harus segera turun tangan mengendalikan fenomena yang terasa sedikit tidak masuk akal ini.

Akan Kembali Layu?

Fenomena melonjaknya harga sepeda jelas akan membuka medan baru bagi para produsen sepeda untuk ‘berperang’ dengan varian-varian sepeda murah mereka masing-masing. Persaingat ketat para produsen sepeda lokal jelas memaksa mereka untuk segera meluncurkan varian sepeda lipat versi murah yang tetap mampu menjaga gengsi masyarakat Indonesia yang cenderung tinggi. Pajokka melihat, banyak dari pesepeda yang mengedepankan gengsi ketimbang esensi dari bersepeda sebagai olahraga. Olehnya, jelas trend bersepeda ini akan kembali layu lagi. Terlebih jika harga tidak segera dikendalikan oleh pemerintah, atau jika para produsen sepeda tidak mengeluarkan varian-varian sepeda murah, maka cepat atau lambat, trend bersepeda akan kembali layu. 

Tunggu Harga Turun atau Beli Sekarang?

Tergantung niat! Jika teman-teman benar-benar ingin berolahraga mencari keirngat, maka diluar sana banyak sekali sebab yang dapat teman-teman gunakan untuk mengeluarkan keringat - jogging misalnya. Namun jika teman-teman ingin ikut larut dalam euforia masyarakat dalam menebar gengsi di jalan, maka jelas teman-teman harus segera mengeksekusi rencana pembelian sepeda sebelum harga semakin tidak masuk akal.

Rekomendasi Audio Interface Berkualitas Dibawah 2 Juta

Pasaran harga audio interface di tahun 2020 ini berada pada rentang harga 2 juta hingga puluhan juta rupiah. Berikut ini audio interface dibawah 2 juta rekomendasi Pajokka yang bisa teman-teman pertimbangkan.

Parameter yang dijadikan patokan kualitas dalam artikel ini adalah besaran equivalent input noise serta fitur yang ditawarkan.

RODE AI-1

Untuk kelas audio interface dibawah 2 juta rupiah, RODE AI-1 sangat layak untuk dilirik. Demikian halnya karena audio interface ini memiliki equivalent input noise sebesar -130 dB yang berarti bahwa audio interface ini memiliki noise yang sangat minim - nyaris tidak terdengar.

Noise sendiri merupakan bunyi hiss yang dihasilkan oleh preamp dari audio interface. Bunyinya kira-kira seperti bunyi TV tanpa siaran. Istilah ini disebut juga dengan white noise.

Selain karena noise-nya yang rendah, RODE AI-1 juga layak untuk dibeli karena build quality-nya. Meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Steinberg, ‘built like a tank’, RODE AI-1 memiliki fisik yang kuat dan kokoh - seperti tank.

RODE AI-1 hanya memiliki 1 input combo XLR dan 1/4 inch yang bisa digunakan untuk merekam suara dari mikrofon dan juga gitar atau bass. Untuk merekam musik, tentu inputnya harus digunakan secara bergantian.

Untuk outputnya sendiri, RODE AI-1 menyediakan 2 buah stereo output berukuran 1/4 inch pada bagian belakangnya. Selain itu, output untuk headphone monitoring dengan fitur low latency juga telah tersedia pada RODE AI-1. Berita baiknya, koneksi RODE AI-1 sudah menggunakan USB type-C yang diklaim lebih efisien dalam urusan transfer data.

Saat ini, RODE AI-1 dibanderol seharga 1.8xx.xxx di RODE official store Indonesia.

iRIG Pre HD

Berbeda dengan RODE AI-1 yang mendukung perekaman gitar dan bass, iRIG Pre HD diciptakan khusus untuk mikrofon saja. Artinya, jika teman-teman ingin melakukan perekaman gitar dan bass dengan iRIG Pre HD, maka satu-satunya opsi yang tersedia adalah melakukan perekaman secara live recording.

Berdasarkan pengukuran dengan resistor sebesar 150 ohm, iRIG Pre HD memiliki equivalent input noise sebesar -129 dB - hanya selisih 1 dB dari RODE AI-1.

iRIG Pre HD yang saat ini dibanderol dengan harga Rp. 1.7xx.xxx juga memiliki 1 input bertipe XLR untuk mikrofon saja. Untuk outputnya menggunakan koneksi micro-USB. Satu keunggulan dari interface ini yang tidak ditawarkan oleh RODE AI-1 adalah disertainya kabel micro-USB to lightning pada paket iRIG Pre HD. Ini berarti bahwa iRIG Pre HD mendukung perekaman langsung ke perangkat iOS.

Zoom U-22

Audio interface besutan Zoom Corporation ini merupakan seri terendah dari jajaran audio interface Zoom yang diberi seri ‘U’ yang dirilis kedalam 3 tipe - U-22, U-24, dan U-44. 

Zoom U-22 memiliki dua buah input; yakni input 3.5 mm untuk lavalier microphone dan combo XLR dan 1/4 inch untuk koneksi mikrofon reguler yang juga bisa digunakan untuk menyambungkan gitar serta bass. Sayang sekali, kedua input ini tidak bisa digunakan secara bersamaan.

Zoom U-22 dibekali dengan dua buah output stereo bertipe RCA. Selain itu, terdapat pula colokan headphone monitoring berukuran 3.5 mm.

Satu kelebihan dari Zoom U-22 yang tidak dimiliki kompetitornya adalah pada portabilitasnya. Zoom U-22 menyematkan sebuah micro-USB yang berfungsi khusus sebagai pemasok daya ketika digunakan pada perangkat iOS atau Android dan sebuah port USB lagi untuk koneksi ke laptop/PC. Jika penyambungan koneksi daya tidak memungkinkan, penggunanya bisa menggunakan baterai bertipe AA untuk menyalakan Zoom U-22 ini.

Untuk equivalent input noise-nya, Zoom U-22 mencetak angka sebesar -125 dB yang setara dengan noise dari Zoom H5 dan Zoom H6 yang populer digunakan oleh podcaster-podcaster kaliber dunia.

Focusrite Scarlett Solo 3rd Generation

Jika anda pernah melihat audio interface dengan warna merah menyala, maka kemungkinan audio interface yang anda lihat tersebut adalah seri Scarlett besutan Focusrite yang jamak digunakan oleh musisi cover di Youtube.

Sesuai namanya, Focusrite Scarlett Solo 3rd generation merupakan produk dari Focusrite yang ditelurkan untuk meneruskan seri sebelumnya - Focusrite Scarlett Solo 2nd Generation yang juga sangat laris di pasaran.

Focusrite Scarlett Solo 3rd generation dibekali dengan sebuah input bertipe XLR 3 pin dan sebuah input berukuran 1/4 inch untuk instrumen - persis sama dengan Scarlett Solo 2nd gen. Hal yang membedakan Scarlett 3rd gen dengan Scarlett 2nd gen hanyalah tombol “AIR” yang berfungsi untuk mengemulasi suara pada rentang frekuensi mid-high. Selain itu, Scarlett Solo 3rd generation telah mengadopsi USB type-C sebagai konektornya.

Saat artikel ini ditulis, Focusrite Scarlett Solo 3rd generation dapat ditebus dengan harga Rp. 2.010.000 (bukan dibawah dua juta, tapi nambah 10 ribu rupiah saja sudah dapat Scarlett). 

Bonus: Yamaha AG-03

Yamaha AG-03 sebenarnya merupakan sebuah audio mixer - lebih tepatnya sebuah mixer interface. Namun ia memiliki fitur yang serupa dengan audio interface.

Dengan equivalent input noise sebesar -128 dB, Yamaha AG-03 menjadi sangat layak untuk dilirik. Bisa dikatakan, mixer interface ini adalah interface yang menawarkan fitur paling lengkap untuk rentang harga dibawah 2 juta rupiah. 

Yamaha AG-03 memiliki 3 input - sebuah combo XLR dan 1/4 inch, sebuah input stereo (L & R), sebuah input 3.5 mm untuk lavalier mic dan sebuah aux-in. Untuk outputnya, Yamaha AG-03 menawarkan stereo output bertipe RCA serta headphone monitoring berukuran 1/4 inch.

Yamaha AG-03 dibanderol dengan harga Rp. 1.7xx.xxx. Sayang sekali, barang produksi 2015 ini juga sudah termasuk langka di pasaran. Admin Pajokka yang menanyakan ketersediaan stock Yamaha AG-03 langsung ke dealer Yamaha Musik Indonesia hingga saat ini belum mendapat kabar terkait ketersediaan Yamaha AG-03 dan Yamaha AG-06. Lapak-lapak di situs marketplace juga tidak lagi memiliki stock untuk Yamaha AG series ini.

Zoom ZDM-1: Dynamic Microphone untuk Podcaster

Bersamaan dengan diperkenalkannya Zoom PodTrak P4 ke publik, Zoom Corporation turut memperkenalkan seri dynamic microphone pertamanya yang bernama Zoom ZDM-1 sebagai pasangan ideal untuk PodTrak P4 dan Podtrak P8. Dua produk ini menegaskan kesiapan Zoom Corporation untuk bertarung melawan ketenaran RODEcast yang telah mendominasi pasar audio interface khusus untuk podcasters.

Dilansir dari situs marketplace luar negeri yang masih memberlakukan status pre-order untuk ZDM-1, harga yang ditawarkan untuk paket yang terdiri dari sebuah Zoom Dynamic Microphone (ZDM), sebuah headphone, kabel XLR, dan dudukan mejanya adalah sebesar $120. Ini adalah harga pre-order yang memungkinan masih akan naik. Sementara untuk dynamic microphone-nya saja, teman-teman bisa menebusnya dengan harga $90.


Credit: bhphotovideo.com

Selama ini, line-up produk Zoom Corporation yang terkenal handal menangani urusan multi-person podcast hanyalah Zoom H6 dengan 4 input yang memungkinkan untuk diupgrade hingga 6 input dan Zoom H5 dengan dua input combo XLR - 1/4inch-nya yang bisa diupgrade hingga 4 input. Beberapa waktu lalu, Zoom memperkenalkan Zoom H8 yang inputnya bisa ditambah hingga 12 input. Kini, Zoom merilis Zoom PodTrack P4 dengan 4 input XLR yang khusus dibuat untuk para podcasters.

Seolah tak ingin kalah dari RODE Microphones dengan RODEcaster dan Podmic serta Procasternya, Zoom meluncurkan PodTrak P4 yang cocok dipadu-padankan dengan dynamic microphone yang diidentifikasi dengan nama ZDM-1. Selain itu, Zoom Corporation juga turut memperkenalkan headphone pertamanya yang dirilis bersamaan dengan ZDM-1. Untuk spesifikasi lebih lengkap dari dynamic microphone serta headphone besutan Zoom Corporation ini, silahkan teman-teman merujuk ke website resmi Zoom.

Persaingan Sengit RODEcaster dengan PodTrak P4

Selain RODEcaster dan Podtrak P4, Maonocaster juga telah mencoba peruntungannya untuk bersaing menggaet perhatian para podcaster. Namun, nama Maonocaster yang masih belum segarang RODE dan Zoom diprediksi akan memaksa Maonocaster untuk rela berada pada pilihan kesekian dari para podcaster. Selain itu, bentuk fisik dari Maonocaster yang dibuat nyaris sama persis dengan RODEcaster juga menimbulkan impresi bahwa Maonocaster hanya ingin mengincar posisi dibelakang RODEcaster.

Dipenghujung tahun 2020 ini, Zoom bersapa PodTrak P4 serta ZDM-1 yang baru dirilisnya diprediksi akan menjadi pilihan utama podcaster profesional. Portabilitasnya yang ringkas serta fiturnya yang memungkinkan melakukan perekaman langsung ke memory card diprediksi akan membuat PodTrack dan ZDM-1 menjadi laris dipasaran.

Bagaimanapun juga, kita semua sebagai pengguna tentunya harus menyambut gembira keberadaan jajaran audio interface yang dibuat khusus untuk podcaster. Hal ini berarti bahwa dengan bertambahnya kompetitor RODEcaster yang di tahun 2020 ini masih memuncaki posisi audio interface untuk podcaster, para podcaster kini bisa semakin leluasa dalam memilih jajaran produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Seperti yang jamak diketahui, saat ini podcasting sedang naik daun. Di Indonesia sendiri, telah banyak podcaster-podcaster yang bermunculan - terutama setelah Anchor dan Spotify tenar dijajaran aplikasi gawai. Diharapkan kedepanya industri podcast di Indonesia dapat semakin menjamur agar media informasi untuk masyarakat dapat menjadi semakin variatif.

Zoom PodTrack P4: Audio Interface Khusus untuk Travel Poscasters

Belum lama ini, tepatnya pada awal Agustus 2020, Zoom Corporation merilis produk anyarnya yang diidentifikasi dengan nama Zoom PodTrack P4 yang disegmentasikan untuk para podcaster. Audio interface ini dibekali dengan 4 input mikrofon bertipe XLR. Berbeda dengan audio interface yang banyak beredar di pasaran, Zoom Corporation menyematkan 4 buah colokan headphone berukuran 3.5 mm pada unit ini.

Berdasarkan informasi yang disadur dari situs marketplace luar negeri, saat ini Zoom PodTrack P4 masih terpajang dengan status pre-order dan dibanderol dengan harga $600 untuk paket lengkap - meliputi 1 buah Zoom PodTrack P4, 4 buah mikrofon Zoom ZDM-1, 4 buah headphone, 4 buah kabel XLR, serta 4 buah dudukan meja. Untuk unit Zoom PodTrack P4 saja, teman-teman cukup menebusnya dengan harga $200.Credit: bhphotovideo.com

Dari fiturnya, terlihat jelas bahwa Zoom PodTrack P4 ini dirilis untuk menyaingi RODEcaster yang lebih dulu rilis. Berbeda dengan RODEcaster, bentuk Zoom PodTrack P4 terlihat jauh lebih ringkas - tidak lebih besar dari ukuran laptop 13 inch.

Serupa dengan RODEcaster, Zoom PodTrack P4 dibekali dengan 4 buah sound pads yang memungkinkan penggunanya untuk memutar  musik selingan atau jingle. Selain itu, Zoom PodTrack P4 besutan Zoom Corporation memungkinkan penggunanya untuk merekam percakapan langsung ke memory card sehingga  pengguna Zoom PodTrack P4 tidak lagi membutuhkan laptop atau komputer yang menjalankan software DAW sebagai perekamnya - kecuali jika harus melakukan post editing.

Jika ingin melakukan perekaman episode podcast yang panjang, unit ini mengakomodasi dua input bertipe USB type-C yang masing-masing berfungsi untuk rekaman ke DAW di laptop atau komputer dan untuk keperluan daya.

(Baca juga: Zoom Podtrak P8 Akhirnya Dirilis)

Berbeda dengan RODEcaster, Zoom PodTrack P4 dapat ditenagai dengan baterai bertipe AA. Fitur ini jelas menegaskan bahwa Zoom PodTrack P4 ini secara khusus ditujukan untuk para travel podcaster dengan mobilitas tinggi. Dengan Zoom PodTrack P4, perekaman episode podcast tidak lagi harus dilakukan di studio khusus. Jika biasanya tamu harus datang ke studio podcast, kini podcaster bisa gantian mendatangi tamunya.