Nama Djoko Tjandra Menjadi Pemberitaan Media. Siapa Dia?

Nama Djoko Tjandra, sosok pemilik nama Chan Kok Hin, akhir-akhir ini sering muncul di pemberitaan. Siapa Djoko Tjandra sebenarnya? Dan bagaimana rekam jejaknya?

Lahir di Kalimantan Barat pada 27 Agustus 1951, Djoko Tjandra memulai karirnya pada usia 17 tahun dengan membuka toko grosir bernama Sama-Sama di Irian Jaya. Pada tahun 1972, Djoko Tjandra membuka toko bernama Papindo di Panua Nugini. 3 tahun berselang, ia mendirikan PT. Bersama Mulia. Seiring berjalannya waktu, PT. Bersama Mulia berhasil menembus kerjasama dengan PT. Pertamina.

Djoko Tjandra dalam Skandal Bank Bali 1999

Nama Djoko Tjandra mulai mencuat ke publik pada tahun 1999. Sentuhan tangannya pada kasus Bank Bali membuatnya menjadi buruan polisi.

Kasus Bank Bali kala itu bermula ketika Direktur Utama Bank Bali kewalahan mengurus piutang sebesar 3 trilyun rupiah dari Bank Tiara, Bank Dagang Nasional Indonesia, dan Bank Umum Nasional. Rudy Ramli, Dirut Bank Bali mengusahakan piutang tersebut dengan menggandeng PT. Era Giat Prima dimana Djoko Tjandra saat itu menjabat sebagai direktur sementara Setya Novanto menjabat sebagai Direktur Utama sekaligus bendahara partai golkar.

Kongkalikong yang terjadi menyebabkan Djoko Tjandra ditetapkan sebagai tersangka. Namun pada saat itu ia berhasil kabur keluar negeri hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2020 keberadaan Djoko Tjandra tercium setelah ia berhasil masuk Indonesia untuk mengurus eKTP.

Perburuan dan Penangkapan Djoko Tjandra

Pada tahun 2020, nama Djoko Tjandra yang telah lama menjadi buruan polisi terdengar. Kabarnya, ia berhasil masuk Indonesia dengan status buronan. Bantuan orang dalam menjadi spekulasi yang terbukti menjadi fakta. Diketahui, berhasilnya Djoko Tjandra masuk ke Indonesia adalah berkat bantuan beberapa jenderal di negeri ini. Selain itu, pengacara Djoko Tjandra, Anita Kolopaking, turut ditetapkan sebagai tersangka bersama Djoko Tjandra karena keterlibatannya dalam membantu Djoko Tjandra masuk ke Indonesia.


Harga Sepeda Lipat Naik Drastis - Sebuah Spekulasi

Bersepeda kembali menjadi trend dikalangan masyarakat Indonesia setelah pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial akibat Covid-19. Dampaknya, harga sepeda lipat melonjak drastis - nyaris menembus level ‘tidak masuk akal’. Berikut ini spekulasi Pajokka terkait fenomena naiknya harga sepeda lipat di Indonesia.

Keluhan Masyarakat

Isu harga sepeda yang melonjak drastis ini tidak hanya dikeluhkan oleh masyarakat saja. Pejabat sekaliber Ganjar Pranowo turut mengungkapkan kegelisahannya terhadap meroketnya harga sepeda. Oleh banyak pihak, meroketnya harga sepeda (khususnya sepeda lipat) disebabkan karena jumlah permintaan yang masif - tidak sebanding dengan kemampuan produksi.

Untuk sepeda Pacific 2980-RX misalnya. Sebelum pandemi Covid-19, harganya masih berada pada kisaran Rp. 1.500.000 hingga Rp. 2.000.000 saja. Saat ini, sepeda tersebut dibanderol sekitar Rp. 3.000.000 - nyaris naik 100%.

Bukan Karena Covid

Dilansir dari Global Web Index, intensitas bersepeda dan berjalan kaki di United States dan England naik sejak Covid-19. Selanjutnya, data dari United Nations menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 merupakan momentum untuk menyehatkan dunia dengan menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan. 

Di Indonesia sendiri, banyak dari pesepeda lipat yang keluar masih dengan menggunakan mobil. Setelah tiba di tujuan, mereka menurunkan sepeda mereka, bersepeda sejenak, mengambil beberapa video dan gambar untuk keperluan dokumentasi, lalu kembali menaikkan sepeda mereka ke mobil. Hal ini menegaskan bahwa untuk bersepeda, beberapa dari masyarakat kita masih harus membakar bahan bakar melalui mesin kendaraan bermotor.

Bukti selanjutnya, sangat jarang dijumpai pesepeda yang berjalan sendirian. Kebanyakan dari mereka keluar bersama komunitas sepeda yang berjumlah diatas 5 orang. Jika ini murni karena takut akan penularan Covid, maka tentu mereka akan lebih memilih untuk berjalan sendirian.

Musiman?

Bersepeda bukan baru kali ini menjadi trend dikalangan masyarakat. Sekira satu dasawarsa silam (mungkin lebih), bersepeda pernah lebih booming dari booming-nya bersepda ditahun 2020 ini. Saat itu, jenis sepeda yang populer adalah fixie atau fixed gear bike. Populernya sepeda saat itu menyebabkan harga sepeda sedikit mengalami kenaikan - meskipun tidak semasif sekarang ini.

Pajokka percaya bahwa harga sepeda, khususnya sepeda lipat, masih akan bertahan seperti yang dapat kita lihat pada pertengahan tahun 2020 ini. Diprediksi harga segera turun. Mengenai kapannya, tidak ada yang tahu.

Jelas, trend bersepeda yang kita lihat sekarang ini hanya merupakan trend musiman mengingat tahun 2020 ini bukan pertama kalinya Indonesia dilanda demam bersepeda.

Gara-gara Brompton?

Sejak nama Brompton yang bernilai puluhan juta rupiah itu mulai terdengar, harga sepeda lipat lokal turut melonjak. Jika permintaan pasar yang tidak sebanding dengan kemampuan produksi dijadikan sebagai dalih, maka waktu 3 - 5 bulan tentu telah cukup untuk memenuhi permintaan pasar - terlebih setelah pemerintah melonggarkan kebijakan tentang pembatasan sosial.

Entah karena ada pihak yang ingin memperlama durasi euforia demam bersepeda ini untuk memanen rupiah ataukah ini memang murni karena permintaan pasar yang masif, pemerintah harus segera turun tangan mengendalikan fenomena yang terasa sedikit tidak masuk akal ini.

Akan Kembali Layu?

Fenomena melonjaknya harga sepeda jelas akan membuka medan baru bagi para produsen sepeda untuk ‘berperang’ dengan varian-varian sepeda murah mereka masing-masing. Persaingat ketat para produsen sepeda lokal jelas memaksa mereka untuk segera meluncurkan varian sepeda lipat versi murah yang tetap mampu menjaga gengsi masyarakat Indonesia yang cenderung tinggi. Pajokka melihat, banyak dari pesepeda yang mengedepankan gengsi ketimbang esensi dari bersepeda sebagai olahraga. Olehnya, jelas trend bersepeda ini akan kembali layu lagi. Terlebih jika harga tidak segera dikendalikan oleh pemerintah, atau jika para produsen sepeda tidak mengeluarkan varian-varian sepeda murah, maka cepat atau lambat, trend bersepeda akan kembali layu. 

Tunggu Harga Turun atau Beli Sekarang?

Tergantung niat! Jika teman-teman benar-benar ingin berolahraga mencari keirngat, maka diluar sana banyak sekali sebab yang dapat teman-teman gunakan untuk mengeluarkan keringat - jogging misalnya. Namun jika teman-teman ingin ikut larut dalam euforia masyarakat dalam menebar gengsi di jalan, maka jelas teman-teman harus segera mengeksekusi rencana pembelian sepeda sebelum harga semakin tidak masuk akal.

Rekomendasi Audio Interface Berkualitas Dibawah 2 Juta

Pasaran harga audio interface di tahun 2020 ini berada pada rentang harga 2 juta hingga 10 juta rupiah - bahkan ada yang diatas 10 juta. Berikut ini audio interface dibawah 2 juta rekomendasi Pajokka.

Parameter yang dijadikan patokan kualitas dalam artikel ini adalah besaran equivalent input noise serta fitur yang ditawarkan.

RODE AI-1

Untuk kelas audio interface dibawah 2 juta rupiah, RODE AI-1 sangat layak untuk dilirik. Demikian halnya karena audio interface ini memiliki equivalent input noise sebesar -130 dB yang berarti bahwa audio interface ini memiliki noise yang sangat minim - nyaris tidak terdengar.

Noise sendiri merupakan bunyi hiss yang dihasilkan oleh preamp dari audio interface. Bunyinya kira-kira seperti bunyi TV tanpa siaran. Istilah ini disebut juga dengan white noise.

Selain karena noise-nya yang rendah, RODE AI-1 juga layak untuk dibeli karena build quality-nya. Meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Steinberg, ‘built like a tank’, RODE AI-1 memiliki fisik yang kuat dan kokoh - seperti tank.

RODE AI-1 hanya memiliki 1 input combo XLR dan 1/4 inch yang bisa digunakan untuk merekam suara dari mikrofon dan juga gitar atau bass. Untuk merekam musik, tentu inputnya harus digunakan secara bergantian.

Untuk outputnya sendiri, RODE AI-1 menyediakan 2 buah stereo output berukuran 1/4 inch pada bagian belakangnya. Selain itu, output untuk headphone monitoring dengan fitur low latency juga telah tersedia pada RODE AI-1. Berita baiknya, koneksi RODE AI-1 sudah menggunakan USB type-C yang diklaim lebih efisien dalam urusan transfer data.

Saat ini, RODE AI-1 dibanderol seharga 1.8xx.xxx di RODE official store Indonesia.

iRIG Pre HD

Berbeda dengan RODE AI-1 yang mendukung perekaman gitar dan bass, iRIG Pre HD diciptakan khusus untuk mikrofon saja. Artinya, jika teman-teman ingin melakukan perekaman gitar dan bass dengan iRIG Pre HD, maka satu-satunya opsi yang tersedia adalah melakukan perekaman secara live recording.

Berdasarkan pengukuran dengan resistor sebesar 150 ohm, iRIG Pre HD memiliki equivalent input noise sebesar -129 dB - hanya selisih 1 dB dari RODE AI-1.

iRIG Pre HD yang saat ini dibanderol dengan harga Rp. 1.7xx.xxx juga memiliki 1 input bertipe XLR untuk mikrofon saja. Untuk outputnya menggunakan koneksi micro-USB. Satu keunggulan dari interface ini yang tidak ditawarkan oleh RODE AI-1 adalah disertainya kabel micro-USB to lightning pada paket iRIG Pre HD. Ini berarti bahwa iRIG Pre HD mendukung perekaman langsung ke perangkat iOS. 

Zoom U-22

Audio interface besutan Zoom Corporation ini merupakan seri terendah dari jajaran audio interface Zoom yang diberi seri ‘U’ yang dirilis kedalam 3 tipe - U-22, U-24, dan U-44. 

Zoom U-22 memiliki dua buah input; yakni input 3.5 mm untuk lavalier microphone dan combo XLR dan 1/4 inch untuk koneksi mikrofon reguler yang juga bisa digunakan untuk menyambungkan gitar serta bass. Sayang sekali, kedua input ini tidak bisa digunakan secara bersamaan.

Zoom U-22 dibekali dengan dua buah output stereo bertipe RCA. Selain itu, terdapat pula colokan headphone monitoring berukuran 3.5 mm.

Satu kelebihan dari Zoom U-22 yang tidak dimiliki kompetitornya adalah pada portabilitasnya. Zoom U-22 menyematkan sebuah micro-USB yang berfungsi khusus sebagai pemasok daya ketika digunakan pada perangkat iOS atau Android dan sebuah port USB lagi untuk koneksi ke laptop/PC. Jika penyambungan koneksi daya tidak memungkinkan, penggunanya bisa menggunakan baterai bertipe AA untuk menyalakan Zoom U-22 ini.

Untuk equivalent input noise-nya, Zoom U-22 mencetak angka sebesar -125 dB yang setara dengan noise dari Zoom H5 dan Zoom H6 yang populer digunakan oleh podcaster-podcaster kaliber dunia.

Untuk harganya, Zoom U-22 dibanderol pada rentang harga Rp. 1.7xx.xxx. Sayang sekali, barang produksi tahun 2018 ini sudah sangat langka dipasaran. Jikapun ada, kemungkinan harganya telah naik. 

Bonus: Yamaha AG-03

Yamaha AG-03 sebenarnya merupakan sebuah audio mixer. Namun ia memiliki fitur yang serupa dengan audio interface.

Dengan equivalent input noise sebesar -128 dB, Yamaha AG-03 menjadi sangat layak untuk dilirik. Bisa dikatakan, mixer interface ini adalah interface yang menawarkan fitur paling lengkap untuk rentang harga dibawah 2 juta rupiah.

Yamaha AG-03 memiliki 3 input - sebuah combo XLR dan 1/4 inch, sebuah input stereo (L & R), sebuah input 3.5 mm untuk lavalier mic dan sebuah aux-in. Untuk outputnya, Yamaha AG-03 menawarkan stereo output bertipe RCA serta headphone monitoring berukuran 1/4 inch.

Yamaha AG-03 dibanderol dengan harga Rp. 1.7xx.xxx. Sayang sekali, barang produksi 2015 ini juga sudah termasuk langka di pasaran. Admin Pajokka yang menanyakan ketersediaan stock Yamaha AG-03 langsung ke dealer Yamaha Musik Indonesia hingga saat ini belum mendapat kabar terkait ketersediaan Yamaha AG-03 dan Yamaha AG-06. Lapak-lapak di situs marketplace juga tidak lagi memiliki stock untuk Yamaha AG series ini.

Zoom ZDM-1: Dynamic Microphone untuk PodTrack P4

Bersamaan dengan diperkenalkannya Zoom PodTrack P4 ke publik, Zoom Corporation turut memperkenalkan seri dynamic microphone pertamanya yang bernama Zoom ZDM-1 sebagai pasangan ideal untuk PodTrack P4. Dua produk ini menegaskan kesiapan Zoom Corporation untuk bertarung melawan ketenaran RODEcast yang telah mendominasi pasar audio interface khusus untuk podcasters.

Dilansir dari situs marketplace luar negeri yang masih memberlakukan status pre-order untuk ZDM-1, harga yang ditawarkan untuk paket yang terdiri dari sebuah Zoom Dynamic Microphone (ZDM), sebuah headphone, kabel XLR, dan dudukan mejanya adalah sebesar $120. Ini adalah harga pre-order yang memungkinan masih akan naik. Sementara untuk dynamic microphone-nya saja, teman-teman bisa menebusnya dengan harga $90.


Credit: bhphotovideo.com

Selama ini, line-up produk Zoom Corporation yang terkenal handal menangani urusan multi-person podcast hanyalah Zoom H6 dengan 4 input yang memungkinkan untuk diupgrade hingga 6 input dan Zoom H5 dengan dua input combo XLR - 1/4inch-nya yang bisa diupgrade hingga 4 input. Beberapa waktu lalu, Zoom memperkenalkan Zoom H8 yang inputnya bisa ditambah hingga 12 input. Kini, Zoom merilis Zoom PodTrack P4 dengan 4 input XLR yang khusus dibuat untuk para podcasters.

Seolah tak ingin kalah dari RODE Microphones dengan RODEcaster dan Podmic serta Procasternya, Zoom meluncurkan PodTrack P4 yang cocok dipadu-padankan dengan dynamic microphone yang diidentifikasi dengan nama ZDM-1. Selain itu, Zoom Corporation juga turut memperkenalkan headphone pertamanya yang dirilis bersamaan dengan ZDM-1. Untuk spesifikasi lebih lengkap dari dynamic microphone serta headphone besutan Zoom Corporation ini, silahkan teman-teman merujuk ke website resmi Zoom.

Persaingan Sengit RODEcaster dengan PodTrack P4

Selain RODEcaster dan Podtrack P4, Maonocaster juga telah mencoba peruntungannya untuk bersaing menggaet perhatian para podcaster. Namun, nama Maonocaster yang masih belum segarang RODE dan Zoom diprediksi akan memaksa Maonocaster untuk rela berada pada pilihan kesekian dari para podcaster. Selain itu, bentuk fisik dari Maonocaster yang dibuat nyaris sama persis dengan RODEcaster juga menimbulkan impresi bahwa Maonocaster hanya ingin mengincar posisi dibelakang RODEcaster.

Dipenghujung tahun 2020 ini, Zoom bersapa PodTrack P4 serta ZDM-1 yang baru dirilisnya diprediksi akan menjadi pilihan utama podcaster profesional. Portabilitasnya yang ringkas serta fiturnya yang memungkinkan melakukan perekaman langsung ke memory card diprediksi akan membuat PodTrack dan ZDM-1 menjadi laris dipasaran.

Bagaimanapun juga, kita semua sebagai pengguna tentunya harus menyambut gembira keberadaan jajaran audio interface yang dibuat khusus untuk podcaster. Hal ini berarti bahwa dengan bertambahnya kompetitor RODEcaster yang di tahun 2020 ini masih memuncaki posisi audio interface untuk podcaster, para podcaster kini bisa semakin leluasa dalam memilih jajaran produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Seperti yang jamak diketahui, saat ini podcasting sedang naik daun. Di Indonesia sendiri, telah banyak podcaster-podcaster yang bermunculan - terutama setelah Anchor dan Spotify tenar dijajaran aplikasi gawai. Diharapkan kedepanya industri podcast di Indonesia dapat semakin menjamur agar media informasi untuk masyarakat dapat menjadi semakin variatif.

Zoom PodTrack P4: Audio Interface Khusus untuk Travel Poscasters

Belum lama ini, tepatnya pada awal Agustus 2020, Zoom Corporation merilis produk anyarnya yang diidentifikasi dengan nama Zoom PodTrack P4 yang disegmentasikan untuk para podcaster. Audio interface ini dibekali dengan 4 input mikrofon bertipe XLR. Berbeda dengan audio interface yang banyak beredar di pasaran, Zoom Corporation menyematkan 4 buah colokan headphone berukuran 3.5 mm pada unit ini.

Berdasarkan informasi yang disadur dari situs marketplace luar negeri, saat ini Zoom PodTrack P4 masih terpajang dengan status pre-order dan dibanderol dengan harga $600 untuk paket lengkap - meliputi 1 buah Zoom PodTrack P4, 4 buah mikrofon Zoom ZDM-1, 4 buah headphone, 4 buah kabel XLR, serta 4 buah dudukan meja. Untuk unit Zoom PodTrack P4 saja, teman-teman cukup menebusnya dengan harga $200.

Credit: bhphotovideo.com

Dari fiturnya, terlihat jelas bahwa Zoom PodTrack P4 ini dirilis untuk menyaingi RODEcaster yang lebih dulu rilis. Berbeda dengan RODEcaster, bentuk Zoom PodTrack P4 terlihat jauh lebih ringkas - tidak lebih besar dari ukuran laptop 13 inch.

Serupa dengan RODEcaster, Zoom PodTrack P4 dibekali dengan 4 buah sound pads yang memungkinkan penggunanya untuk memutar  musik selingan atau jingle. Selain itu, Zoom PodTrack P4 besutan Zoom Corporation memungkinkan penggunanya untuk merekam percakapan langsung ke memory card sehingga  pengguna Zoom PodTrack P4 tidak lagi membutuhkan laptop atau komputer yang menjalankan software DAW sebagai perekamnya - kecuali jika harus melakukan post editing.

Jika ingin melakukan perekaman episode podcast yang panjang, unit ini mengakomodasi dua input bertipe USB type-C yang masing-masing berfungsi untuk rekaman ke DAW di laptop atau komputer dan untuk keperluan daya.

Berbeda dengan RODEcaster, Zoom PodTrack P4 dapat ditenagai dengan baterai bertipe AA. Fitur ini jelas menegaskan bahwa Zoom PodTrack P4 ini secara khusus ditujukan untuk para travel podcaster dengan mobilitas tinggi. Dengan Zoom PodTrack P4, perekaman episode podcast tidak lagi harus dilakukan di studio khusus. Jika biasanya tamu harus datang ke studio podcast, kini podcaster bisa gantian mendatangi tamunya.

Ngopi di Warkop Utara, Jl. Tinumbu, Makassar

Terletak di wilayah utara kota Makassar, tepatnya di Jalan Tinumbu Raya no. 414, keberadaan Warkop Utara nyaris tidak terlihat akibat padatnya lalu lintas yang didominasi oleh truk kontainer. Kamis, 6 Agustus 2020, Pajokka menyempatkan ngopi di Warkop Utara.

Warkop ini terletak sebelum jembatan Tinumbu, sekira 500 meter dari ujung jalan dari Jalan Andalas.

Menu yang ditawarkan cukup variatif dengan menu andalan kopi susu telur yang dijual seharga Rp. 15.000 per-gelas. Selain itu, terdapat pula teh susu telur yang juga dijual dengan harga yang sama.

Satu yang menarik dari warkop ini adalah menu kopi susunya yang masih dijual seharga Rp. 10.000. Disaat warkop-warkop lain telah menjual Rp.13.000 - Rp. 15.000, Warkop Utara masih mempertahankan kopi yang bisa ditebus dengan selembar rupiah bernominal 10.000.

Warkop Utara - Pajokka


Untuk cita rasa kopi susunya sendiri cenderung sama dengan warkop-warkop lainnya yang jamak ditemui di Makassar yang tidak bernaung dibawah bendera Daeng Sija atau Dottoro yang telah menjadi francise. Pahit kopinya masih terasa saat menempel di lidah. Sangat sepadan dengan harganya.

Satu kekurangan yang mungkin bisa Pajokka sebutkan untuk warkop ini adalah ketersediaan lahan parkir yang minim. Bisa dikatakan, Warkop Utara hanya dapat mengakomodasi 2 mobil saja. Namun jika teman-teman mampir menggunakan sepeda motor, akomodasi parkirnya sangat cukup untuk menjadi tempat mendinginkan mesin motor teman-teman.

Pajokka yang mampir ke Warkop Utara saat Makassar masih menjadi zona merah Covid-19 melihat pemandangan yang cukup disiplin disini. Pengelola Warkop Utara nampak sangat memperhatikan aturan pemerintah setempat tentang pembatasan sosial dalam masa pandemi Covid-19. Pergerakan pengunjung warkop dibatasi dimana untuk sebuah meja yang idealnya dapat diisi oleh 4 orang hanya dapat dihuni oleh 2 orang saja. Terdapat simbol silang pada setiap permukaan meja. Selain itu, pengelola juga hanya menyediakan dua kursi untuk setiap meja, sehingga tidak ada celah bagi pengunjung untuk melanggar aturan pemerintah terkait pembatasan sosial. Salut untuk pengelola Warkop Utara, Makassar.

Untuk menu makanan yang ditawarkan, harga termahal hanya Rp. 18.000 saja. Menu tersebut adalah harga untuk Indomie rebus telur 2X1.

Teman-teman yang memiliki keperluan di sekitaran Jalan Tinumbu, Makassar dianjurkan untuk mampir di Warkop Utara yang berhadapan langsung dengan Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu Panampu, Makassar.

Resensi Novel Kwikku - Mahasiswa Abadi: Ospek

Jujur, Pajokka adalah pembaca aktif novel-novel di portal Kwikku. Pada kesempatan kali ini, admin akan mengulas sebuah novel berjudul “Mahasiswa Abadi: Ospek” yang telah terbit di Kwikku. Sebelumnya, Pajokka telah menulis potensi menerbitkan novel secara self-publishing di Kwikku. Jika teman-teman belum membacanya, sempatkan membaca artikel tersebut untuk mengetahui bagaimana Kwikku mengelola novel-novel yang diterbitkan disana. Siapa tahu rezeki teman-teman dari menulis?!

Penokohan

Dalam novel tersebut, Deka didaulat sebagai pemeran utama dengan karakter anak SMA yang masih apa adanya - polos tanpa ilmu. Deka adalah seorang yang sangat ingin bersahabat dengan buku namun ia selalu saja mengalami kendala dalam menyelesaikan bacaannya. Dalam novel ini, Deka digambarkan sebagai tokoh utama yang malas membaca namun ingin menjadi sosok yang haus ilmu dan pengetahuan.


Konflik

Selain berbicara tentang Deka bersama sekelumit masalahnya dengan membaca dan ilmu, novel “Mahasiswa Abadi: Ospek” juga turut menghadirkan beberapa konflik sekunder yang meliputi permasalahan politik dalam pemilihan rektor kampus dan organisasi kemahasiswaan di fakultas dan kampusnya. Belum juga resmi menjadi mahasiswa, Deka telah berorasi didepan rektor dan seluruh dekan menolak pemindahan prosesi penerimaan mahasiswa baru ke pesantren.

Rencana pemindahan penerimaan mahasiswa baru ke pesantren akhirnya dibatalkan rektor. Dari sini, Deka mulai dikenal dikalangan senior. Konflik memuncak setelah Deka mengalami dilema terkait masa depannya - apakah ia akan mengejar cita-citanya menjadi akademisi, ataukah ia harus aktif dalam organisasi kampus yang biasanya terkenal lambat lulus kuliah.

Layak Baca?

Novel yang terbit secara self-publishing ini jelas layak untuk dibaca. Untuk membacanya, teman-teman sekalian bisa mengakses laman Kwikku melalui peramban web favorit teman-teman sekalian. Jika teman-teman merasa lebih nyaman menggunakan aplikasi gawai, teman-teman dapat pula mengaksesnya melalui aplikasi Kwikku di iOS dan Android.