Dengar Podcast vs Nonton Youtube

Di Indonesia, podcast masih belum sepopuler youtube. Namun terdapat beberapa kalangan yang telah menggeluti dunia ini. Sensasi mendengar podcast sama persis seperti mendengar radio. Bedanya, podcast memungkinkan kita untuk memilih tema atau topik yang ingin kita dengarkan. Selain itu, podcast juga dapat didengarkan kapan saja. Lantas, bagaimana potensi podcast di tahun 2020 ini?

Podcast Sebelum 2020

Dahulu, banyak podcaster yang menyajikan podcastnya via Powerpress pada Wordpress. Untuk memiliki sebuah channel podcast seperti itu, dibutuhkan biaya yang sangat mahal. Mulai dari sewa domain dan hosting hingga pengadaan peralatan mixing yang harganya tidak main-main. Bahkan hingga 2020-pun metode seperti itu masih diadopsi banyak kalangan. Penerapan metode tersebut bahkan diidentikkan dengan embel-embel profesional yang artinya kalau belum menggunakan Wordpress dan alat mixing, podcast tersebut belum bisa dikatakan sebagai profesional.

Podcast Tahun 2020

Ditahun 2020, bahkan beberapa tahun sebelum 2020, telah bermunculan platform-platform yang memungkinkan Anda membuat suara Anda terdengar melalui channel podcast Anda. Biayanya bahkan gratis alias tanpa dipungut bayaran - terkecuali biaya langganan paket internet. Beberapa platform yang populer antara lain Anchor, PodBean, Podiant, Spreaker, dan masih banyak lagi. 

Modal yang Anda butuhkan bahkan bisa sangat minim - yakni barang yang kini bukan lagi merupakan barang mewah - yakni, gawai atau smart-phone. Hanya dengan bermodalkan sebuah gawai, Anda dapt membaut suara Anda terdengar hingga ke seantero negeri.

Youtube Vs Podcast

Meskipun tidak komparabel, namun beberapa kalangan mencoba membandingkan antara Youtube dengan podcast. Berikut ini beberapa alasan mengapa podcast lebih efektif dibandingkan Youtube. Asumsi yang digunakan dalam komparasi berikut adalah efektivitas penyajian konten.

Perlu diingat bahwa Youtube juga mengungguli podcast dalam hal lain. Misalnya dalam menikmati konten-konten tutorial, Youtube mengungguli podcast karena Youtube menyajikan konten video yang dapat dengan mudah untuk diikuti. Namun itu bukan poin yang menjadi fokus pada artikel kali ini.

#1 Berjalan pada Mode Standby

Podcast dapat didengarkan tanpa harus menyalakan layar gawai Anda. Dengan begitu, Anda dimungkinkan untuk mengerjakan aktivitas ringan seperti jogging, memasak, berbaring, atau menyapu sembari mendengarkan konten yang Anda sukai. Youtube-pun demikian. Anda tetap bisa melakukan aktivitas ringan sambil mendengarkan konten yang ingin Anda dengarkan melalui Youtube. Namun, Anda akan kehilangan poin 2 dibawah.

#2 Hemat Daya Baterai

Mengingat podcast bisa berjalan pada mode standby, maka daya gawai Anda tidak perlu dihabiskan untuk menyalakan layar. Berbeda halnya dengan Youtube yang secara otomatis akan mematikan konten yang sedang Anda dengarkan jika layar gawai Anda tidak menyala.

#3 Konsumsi Data Lebih Ringan

Meskipun ukuran file yang harus diunduh untuk mendengarkan podcast bisa mencapai puluhan megabyte per-episode - yang tergolong lumayan besar - namun podcast membutuhkan paket data yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Youtube. 

#4 Relevansi Iklan

Meskipun kebanyakan podcast tidak mengandung iklan, namun banyak juga yang memonetisasi channel podcastnya - terutama channel-channel yang telah populer. Dalam podcast, iklan akan dibacakan oleh podcaster secara singkat, padat, dan jelas yang biasanya hanya memakan waktu kurang dari 15 detik. Poin pentingnya bukan pada masalah durasi, namun pada relevansi. Poin lebihnya adalah, podcast selalu menyajikan iklan yang relevan dengan topik yang dibicarakan. Selain itu, iklan biasanya hanya muncul sekali atau dua kali saja - biasanya pada awal dan akhir episode. Misalnya jika Anda mendengarkan podcast tentang “bahasa Inggris”, maka iklannya akan berkisar antara “kursus bahasa Inggris online” atau “materi kursus berbayar”. Berbeda halnya dengan Youtube yang kemunculan iklannya acak/random. Selain itu, iklannya terkadang tidak berkaitan dengan tema atau topik yang sedang dinikmati. Demikian halnya karena mekanisme periklanan pada podcast tidak melalui pihak ketiga. Pengiklan atau pihak yang produknya ingin dipasarkan umumnya hanya ingin produknya diperkenalkan pada channel-channel yang berkaitan dengan produk tersebut. Untuk mengamankan argumen penulis, perlu saya sampaikan bahwa trend tersebut masih berlaku saat artikel ini ditulis. Namun tidak ada jaminan kedepannya akan tetap seperti itu mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan pemasaran.
Artikel ini ditulis pada masa PSBB akibat Covid-19. Jika Anda membaca artikel ini saat pandemi Covid-19 masih menyelimuti bumi, tetaplah di rumah. Namun jika Anda membaca artikel ini saat pandemi Covid-19 telah menjadi sejarah, saya menganjurkan Anda untuk mengucap banyak puji dan syukur kepada sang Pencipta semesta yang masih memberi kepercayaan kepada Anda sebagai khalifah di bumi-Nya.